Monday, March 14, 2011 | By: Si Junior

DeDiKaSi BuAt RaSuLLuLLaH S.A.W....

Cinta & Rindu Kami


Menelusuri liku-liku hidupmu


Kutemui erti cinta sejati


Cinta jernih semurni embun


Cinta suci setulus pagi


Perit getir yang kau tempuhi


Mengajar kami erti pengorbanan suci


Sungguh, kami jadi mengerti


betapa eratnya Cinta dan Pengorbanan diri


Dan sungguh kami menyedari


Betapa sedikit, jiwa yang memiliki


Mencermati luka-luka pada tubuhmu


Atau darah muliamu yang menitis ke bumi


Menjadikan kami malu sendiri


Betapa kerdilnya cinta & rindu kami


Saksikanlah Ya Rasulullah,


Dengan jiwa yang kerdil ini


Dan dengan hati sehina kami


Lembaran kisahmu akan terus kami dakapi


Hingga saatnya kita bertemu nanti


Perkenankanlah Ya Allah,


Agar kami mampu menghadapi pagi


Dengan akhlaq nabi kami


Atau melabuh diri dimalam hari


Dengan istighfar penyuci diri


Agar kami menjadi hamba Mu


dan menjadi ummat nabi kami
 
Saturday, March 12, 2011 | By: Si Junior

Kisah-Kisah Orang Yang Terpesona Dengan Ayat Al-Quran


Rasulullah SAW pernah meminta sahabatnya yang bernama Abdullah bin Mas'ud supaya membaca al-Qur'an di hadapannya. Sebagaimana diketahui Ibnu Mas'ud adalah sahabat Nabi yang terkenal dengan qira'ahnya yang bagus dan lagu serta suaranya amat merdu.

Ibnu Mas'ud membaca beberapa ayat dari surat an-Nisa'. Tetapi setelah sampai ayat 41, maka Rasulullah meminta Ibnu Mas'ud supaya berhenti, kerana air matanya telah bercucuran terharu.

Ayat an-Nisa' 41 itu ertinya : "Betapa dahsyatnya keadaan di kala itu (hari akhirat), bila Kami (Allah) menghadirkan seorang saksi bagi setiap ummat, dan engkau (Muhammad) Kami hadirkan juga sebagai saksi bagi mereka."

Rasulullah tak tahan mendengar ayat itu. Bagaimana kalau dia menjadi saksi kelak bagi ummatnya yang sudah rosak imannya, bagaimana pula dia dihadirkan sebagai saksi bagi ummatnya yang kafir derhaka dan apakah dia tahan melihat ummatnya yang derhaka itu dihalau oleh malaikat ke neraka? Semuanya itu terbayang di pelupuk matanya, dan kerana itu beliau menangislah. "Cukup, cukup, sampai di sini wahai ibnu Mas'ud" kata Rasulullah kepada sahabatnya yang ahli qira'ah lagi bersuara merdu itu. Ya, beliau terharu dan hatinya tersentuh.

Fudhail bin 'Iyad, yang kemudian menjadi ulama besar, pada mulanya selagi masih muda adalah seorang jahil yang terpesona kepada seorang perempuan. Pada suatu malam dia mendatangi kekasihnya itu. Tetapi setelah dia melompat pagar rumah sang gadis, tiba-tiba dia melihat sang gadis sedang membaca al-Qur'an, mengumandangkan ayat al-Qur'an surah al-Hadid ayat 16 yang artinya :

"Apakah belum tiba waktunya bagi orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan mengingat kebenaran apa yang diturunkan-Nya (al-Qur'an) dan janganlah mereka seperti ahli kitab sebelum mereka, telah lama mereka berpisah dari ajaran Nabinya, sehingga hati mereka menjadi kasar (tidak tembus cahaya kebenaran), dan kebanyakan mereka menjadi orang fasik."

Setelah mendengar ayat ini dituturkan oleh sang gadis dengan suara yang merdu, maka Fudhail mundur dan mengurungkan niat jahatnya. Dan semalaman dia merenungkan peringatan Allah itu bagi hamba-Nya yang beriman. Jiwanya berbisik, "Bila lagi engkau akan insaf? dan bertaubatlah segera sebelum ajal datang menjemput, ya sebelum terlambat, wahai Fudhail!".

Demikian, kemudian dia bertaubat dan berusaha membina dirinya menjadi seorang muslim sejati, dan berkat tekun belajar, dia menjadi ulama besar yang cukup terkenal. Kata-katanya banyak dikutip oleh pengarang.

Lain lagi dengan kisah Utbah al-Ghulam, seorang penjahat besar di negeri Basrah. Pada suatu hari dia mendengar pengajian di sebuah masjid Basrah. Waktu itu yang memberi ceramah agama adalah ulama besar Basrah yang amat terkenal, Syekh Hasan al-Basri. Syekh Hasan kebetulan sedang menguraikan surah al-Hadid ayat 16 tersebut dengan sejelas-jelasnya, dan kemudian menyuruh hadirin terutama bagi orang-orang yang berdosa segera bertaubat. Menjawab pertanyaan seorang hadirin, apakah dosanya akan diampuni Allah bila dia bertaubat, maka Syekh Hasan menjawab :
"Walaupun dosa anda sebesar dosanya Utbah al-Ghulam, Insya-Allah dosa anda akan diampuni bila anda bertaubat dengan sungguh-sungguh."

Tiba-tiba mendengar orang meraung dan kemudian dia jatuh pengsan dalam masjid itu. Dan rupanya yang pengsan itu adalah Uthbah bin al-Ghulam sendiri, sang penjahat terkenal.

Setelah sedar, dia bangkit mendekati sang guru, dan sang guru masih terus menasihatinya dari hati ke hati. Hasan berkata, "Bila anda tahan sentuhan api neraka, maka teruskanlah melakukan kejahatan. Tetapi bila tidak, maka segeralah bertaubat! Dengan dosa-dosa yang kau lakukan itu bererti engkau telah menghina, membebani jiwamu sendiri, maka lepaskan dirimu dari dosa itu dengan bersungguh-sungguh!"

Nasihat sang guru besar, ulama terkenal itu, sungguh menyentuh hatinya, dan kemudian dia bertaubat kepada Allah dengan taubatan nasuha. Dan setelah bertobat, dia mengangkat kedua tangannya dan menengadahkan kepalanya sambil berdo'a kepada Allah yang antara lain berbunyi :

"Tuhanku, jika Engkau telah menerima taubatku dan mengampuni dosaku, maka berilah aku kehormatan dengan kedalaman pengertian tentang agama-Mu dan lekas menghafal apa yang Engkau baca dan aku dengar, sehingga aku dapat menghafal ilmu dan ayat-ayat al-Qur'an. Berilah aku kurnia dengan suara yang indah dan mempesona, sehingga barangsiapa yang mendengar bacaan qira'atku hatinya bertambah tersentuh walaupun dia sebelumnya berhati kasar. Tuhanku, berilah aku kemuliaan dengan rezeki yang halal, dan berilah aku rezeki yang datangnya tak terduga."

Alhamdulillah, do'anya makbul dan terjadilah keanehan pada dirinya. Ada saja rezeki berupa roti yang dihantarkan orang ke rumahnya setiap hari, tanpa diketahui siapa yang mengantarkannya. Demikian itu berlangsung terus sampai akhir hayatnya. Begitulah Allah mengabulkan do'a hamba-Nya yang benar-benar ikhlas dalam taubatnya.

 Ini pula sedikit kisah seorang penulis. Pada suatu hari si penulis membacakan khutbah Jum'at di Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat. Selesai berkhutbah, penulis menggabungkan diri dengan jama'ah, kerana waktu ada imam khusus yang akan mengimami solat Jumaat. Sebelum 'takbiratul ihram' si penulis melihat ke saf belakang, dan ternyata di situ berdiri Prof. Dr. H. Rasjidi yang terkenal itu. Dengan serta merta   si penulis mohon beliau maju ke depan di samping si penulis.

Waktu imam membaca ayat sesudah al-Fatihah, terdengarlah Rasjidi menangis teresak-esak, mungkin kerana terharu dan terpesona. Seingat si penulis, ayat yang dibaca imam waktu itu adalah surah Fushilat ayat 30, yang ertinya :

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Tuhan kami adalah Allah, kemudian berlaku istiqamah (konsisten dalam kebenaran), akan turun malaikat kepada mereka (pada akhir hayatnya) dan membisikkan kalimat : Jangan kamu takut dan bersedih, dan bergembiralah kamu dengan syurga yang telah dijanjikan Tuhan untukmu."

Si penulis beranggapan Rasjidi menangis teresak-esak di dalam masjid waktu itu kerana amat terpesona dan terharunya beliau mendengar imam membaca ayat tersebut.

Dulu waktu Rasulullah membacakan ayat Fushilat 30 itu kepada sahabatnya, Abu Bakar as-Sidiq, maka Abu Bakar berkomentar,
"Alangkah indahnya ayat ini ya Rasul Allah!" Nabi SAW menjawab :
"Nanti (di akhir hayatmu) akan ada malaikat yang akan membisikkan ayat ini ke telingamu!"
Ya, berbahagialah orang-orang soleh yang malaikat membacakan ayat ini kelak ke telinga mereka pada akhir hayatnya. Amien!

Kisah masuknya Umar bin Khaththab ke dalam Islam adalah kisah yang patut diketahui. Sebagaimana diketahui, Umar bin Khaththab adalah tokoh terkemuka di Arab di masa jahiliyah. Mulanya dia sangat menentang ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhhamad. Tetapi kemudian melalui proses yang unik dia akhirnya menjadi orang terkemuka Islam, bahkan menjadi khalifah ke dua setelah Abu Bakar as-Siddiq.

Syahdan pada suatu ketika dia dengan pedang terhunus ingin menikam Rasulullah dengan para sahabatnya yang masih sedikit, yang sedang dibina Rasulullah di rumah Arqam bin Abil di dekat Shafa. Di tengah jalan dia ditegur seseorang bahwa sebelum menyibuk orang lain lebih baik dia menyelesaikan urusan keluarganya sendiri terlebih dahulu. Orang itu menyampaikan kepada Umar bahwa adik kandungnya sendiri bersama suaminya telah menganut Islam menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW. Umar lantas membelok ke rumah adiknya, Fatimah, dan kebetulan sedang membaca al-Qur'an. Dengan serta merta Umar memperlihatkan kemarahannya dengan memukul langsung adik dan iparnya sendiri sehinnga berdarah.

Kebetulan di tangan Fatimah ada lembaran Kitab Suci al-Qur'an yang baru saja dibacanya. Umar membentak adiknya dan meminta supaya lembaran itu diberikan kepadanya. Tetapi Fatimah menolak dengan alasan "Anda adalah najis, yang haram menyentuh lembaran suci ini," tegas Fatimah. Karena rasa ingin tahunya sangat besar, maka dia mandi dan kemudian lembaran suci itu diberikan adiknya, Fatimah, kepada Umar. Dan setelah membaca beberapa ayat dari surah Thaha, hati Umar berbalik arah seratus delapan puluh derajat. Ia kemudian masuk Islam.

"Kami bukan menurunkan al-Qur'an kepadamu untuk menyusahkan dirimu. Melainkan menjadi peringatan bagi orang yang takut Tuhannya. Dia turun dari dzat yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi Ar-Rahman (Allah) itu bersemayam di atas singgasana 'arsy. Kepunyaan-Nya segala apa yang ada di antara keduanya, dan apa-apa yang ada di bawah petala bumi. Jika engkau keraskan perkataan, Dia mengetahui apa yang dirahasiakan dan apa yang lebih tersembunyi. Allah, tidak ada tuhan kecuali Dia. Bagi-Nya ada beberapa nama yang indah." (Q.S. Thaha: 1-8).

Setelah itu barulah dia pergi dengan pedang terhunusnya ke rumah Arqam mencari Rasulullah. Mulanya para sahabat curiga dan dengan kewaspadaan yang penuh untuk mengelakkan segala kemungkinan. Tiba-tiba Umar memeluk Rasulullah dengan sekaligus mengucapkan dua kalimah Syahadah sebagai tanda dia memeluk Islam. Semuanya mengucapkan alhamdulillah dan bertakbir tanda syukur kepada Allah atas islamnya Umar.

Demikian sedikit kisah-kisah yang menarik tentang pesona ayat-ayat suci al-Qur'an yang berguna untuk menguatkan iman hamba-hamba Allah yang ingin bersujud kehadrat-Nya sebagai hambaNya yang ingin berjalan lurus menurut jalur-jalur Kitab Suci al-Qur'anul Karim Dan tumpang tanya apakah ada diantara para pembaca yang budiman yang terpesona dengan membaca al-Qur'an atau mendengarkannya dengan air mata yang bercucuran?                    


                                    -Jadi renung2kan dan selamat beramal-



Cat Stevens to Yusof Islam

Cat Stevens yang bertukar menjadi Yusof Islam, masuk Islam kerana sebuah buku “Terjemahan Al-Qur’an”, yang diterjemahkan oleh A. Yusof Ali...

Abang Cat Stevens adalah seorang paderi yang cukup kuat Kristiannya. Tiba-tiba abangnya masuk Islam. Pada mulanya Cat Stevens terkejut, dia terfikir bagaimanakah seorang paderi boleh masuk Islam. Akhirnya dia menyimpulkan bahawa abangnya jenis orang gila, sekejap kuat agama Kristian, kemudian menjadi penganut agama Islam pula.

Cats Stevens terus menjalani hidupnya sebagai seorang penyanyi, sibuk dengan pertunjukan pentas sana sini. Pada satu hari, ketika hari jadinya, abangnya yang telah masuk Islam datang ke rumahnya ketika Cat Stevens sedang mengadakan parti hari jadinya. Abangnya mengucapkan selamat hari jadi dan terus menghadiahkan satu bungkusan dan berkata “Benda ini benda suci, tolong letakkan di tempat suci dan jangan kamu hina.” Dia pun ambil dan letakkannya di meja bilik tidurnya.

Yusuf Islam
Setelah habis pesta hari jadinya ketika dia mahu tidur, dia teringat dengan bungkusan yang diberikan oleh abangnya. Apabila dia buka bungkusan tersebut, itulah pertama kali dia terlihat sebuah buku dengan perkataan di kulitnya  THE HOLY QURAN  (Kitab Suci Al-Qur’an). Apabila dia melihat sahaja kitab itu dia terasa sesuatu yang ganjil dalam hatinya.
"Aku buka buku dan aku cuba baca maknanya yang terdapat dalam Bahasa Inggeris, dari satu perkataan ke satu perkataan, dari satu ayat ke satu ayat, aku baca! Baca! Baca! Aku terasa satu macam dalam diriku. Aku tak tahu bagaimana nak gambarkannya tetapi aku memang rasa satu macam. Bermula dari situ, ke mana saja aku pergi, baik ke pertunjukkan pentas atau latihan muzik atau ke mana saja, aku bawa buku itu, aku bawa dalam beg pakaianku. Apabila selesai pertunjukkan pentas, balik ke hotel aku akan sambung baca. Begitulah dari semasa ke semasa.”

Akhirnya Cat Stevens memasuki agama Islam dan menjadi penganut agama yang begitu taat sehingga dia menjadi pendakwah Islam pula sehingga sekarang ini. Namanya Cat Stevens juga ditukar kepada Yusof Islam.

Begitulah keadaannya apabila seseorang itu memahami Islam sebelum masuk Islam. Dia memahami setiap seelok-belok dan hukum Islam serta hati sanubarinya benar-benar yakin dengan Islam, barulah dia masuk Islam. Apabila sudah yakin, imannya tidak bergoyang.

Tetapi cuba bandingkan diri kita dengan Yusuf islam,macam mana diri kita ini ,macam mana iman kita..tepuk dada ,tanya iman......tetapi kalau dilihat umat sekarang,macam orang tiada iman...kita pulak yang nak ikut cara orang kafir,sepatutnya kita yang kena tunjuk kat orang kafir perangai orang islam yang sebenar....baik,cantik...islam itu indah,cantik..maka jgnlah kita mengotorinya...

kadang-kadang kita lihat,orang yang baru masuk islam lagi baik daripada orang yang dah lama islam...islam sejak lahir atau sebagainya...mereka lebih memahami islam daripada kita...
-Jadi,renung2kan dan Selamat Beramal-